REVISI MAKALAH
PENGANTAR STUDI ISLAM
disusun untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah
Metodologi Studi Islam
Dosen
Pengampu
DR. Mohammad Arif, MA.
PROGRAM STUDI ILMU
ALQUR’AN
DAN TAFSIR
JURUSAN
USHULUDDIN
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Kediri
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyusun makalah yang berjudul “Pengantar
Studi Islam”.
Makalah ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada bapak Dr Mohammad Arif selaku dosen pembimbing mata kuliah
ini,yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan
tanggungjawabnya
Penulis menyadari bahwa penulisan
makalah ini masih jauh dan belum bisa benar-benar dikatakan sempurna. Oleh
sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat di perlukan. demi
sempurnanya makalah ini, Penulis berharap semoga makalah ini dapat menjadi
pedoman dan bahan pembelajaran untuk para mahasiswa.
Kediri,
29 November
2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………...……… 5
B. Rumusan Masalah…………………………………………………….…. 6
BAB
2 PEMBAHASAN
1.
Aspek Sasaran Studi Islam……………………………………………... 7
2.
Asal-usul Studi Islam................................................................................ 10
3.
Pertumbuhan Studi Islam……………………………............................... 12
BAB 3 PENUTUP
A.
Kesimpulan……………………………………………………………..... 23
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….... 24
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemikiran tentang Islam senantiasa berkembang sesuai perkembangan
umat Islam itu sendiri. Umat Islam berkembang, karena situasi dan kondisi yang
mengelilinginya berkembang pula. Hal itu juga mempengaruhi tingkat kreatifitas
umat islam dalam menentukan hal-hal baru, tentunya yang sesuai dengan ajaran
dan syariat islam. Dalam praktek kehidupan terbukti masih banyak hal yang harus
di perbaiki mengenai perkembangan studi islam.
meskipun, islam dari tahun ke tahun mengalami kemajuan.
Adanya perbandingan dari kemunculan peradaban islam dahulu dengan
sekarang sangat berguna untuk menentukan siapa umat islam yang terbaik dari
suatu era peradaban yang berlaku . perkembangan islam di zaman modern ini juga
perlu adanya koreksi yang kritis. Karena banyak khalayak yang faham tentang
hakikat islam tetapi tidak melaksanakan syariat islam dengan benar.
Peran seorang hamba dalam hal ini di
perlukan untuk memperbaiki suatu sikap kepribadian individualisme antara
manusia satu dengan manusia yang lain, salah satu upayanya yakni saling
mengingatkan. Kita sebagai umat islam harus bangga karena islam adalah agama
yang menjamin kita masuk surga. Tentu tidaklah
mudah untuk mencapai kesanana. Perlu adanya kerja keras dalam berbuat
kebajikan dan takwa kepada Allah Swt. Dalam rangka menuju kenikmatan yang
sempurna kita perlu ilmu. Karena, ilmu itu bisa memudahkan kita untuk mencapai
sesuatu yang kita inginkan. untuk itu, Perlunya mengetahui tentang asal-usul
dan aspek sasaran agama islam dan proses perkembangannya
supaya
kita bisa faham dan bisa memperbarui apa yang ada dalam diri kita menjadi orang
yang lebih bermanfaat dan berlimu.
Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk membahas dan mengkaji
mengenai “Pengantar Studi Islam” Penulisan makalah ini diharapkan dapat
membantu pembaca dalam memahami ajaran Islam dan mengamalkannya.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
penjelasan mengenai apek sasaran studi Islam ?
2. Bagaimana
penjelasan mengenai asal-usul studi Islam ?
3. Bagaimana
penjelasan mengenai pertumbuhan studi Islam ?
C. Maksud dan Tujuan
1. Untuk mengetahui penjelasan mengenai apek sasaran studi islam ?
2. Untuk mengetahui penjelasan mengenai asal-usul studi islam ?
3. Untuk mengetahui penjelasan mengenai pertumbuhan studi islam ?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Aspek Sasaran
Studi Islam
Antara agama dan ilmu pengetahuan masih dirasakan adanya hubungan yang
belum serasi. Jaringan komunikasi ilmiah dianggap belum menjangkau agama. Dalam
bidang agama terdapat sikap dogmatis, sedang dalam bidang ilmiah terdapat sikap
sebaliknya, yakni sikap rasional dan terbuka. Antara agama dan ilmu pengetahuan
memang terdapat unsur-unsur yang saling bertentangan. Dari unsur perbedaan itu
sulit untuk dipertemukan.
Senada dengan hal di atas Imam Suprayogo
mengemukakan, ” bahwa objek sasaran penelitian agama adalah ajaran dan
keberagaman. Ajaran adalah teks (tulisan atau lisan), yang menggambarkan
doktrin teologis, simbol, norma, dan etika yang harus dipahami, diyakini,
disosialisasikan, diamalkan, dilembagakan dalam kehidupan. Ajaran ini bisa
berupa teks AlQur’an, Hadits, pemikiran para ulama. Sedangkan keberagamaan
adalah fenomena sosial yang diakibatkan oleh agama. Fenomena ini bisa berupa
struktur sosial, pranata sosial, dan prilaku sosial.[1]” Studi
Islam sebagai kajian tidak lepas dari keduanya. Antara apek sasaran keagamaan
dan keilmuan sama-sama dibutuhkan dalam diskursus ini. Oleh karena itu, aspek
sasaran Studi Islam meliputi dua hal tersebut, yaitu aspek sasaran keagamaan
dan aspek sasaran keilmuan berikut:
a. Aspek sasaran
keagamaan
IAIN maupun perguruan tinggi agama sebagai lembaga keagamaan, menuntut para
pengelola dan civitas akademiknya untuk lebih menonjolkan sikap pemihakan,
idealitas, bahkan seringkali diwarnai pembelaan yang bercorak apologis.Sekolah sebagai lembaga pendidikan
formal berfungsi dalam menyiapkan generasi penerus. Dalam menannamkan dan
membina sikap toleransi. Dari aspek sasaran ini, wacana keagamaan dapat
ditransformasikan secara baik dan menjadikan landasan kehidupan dalam
berperilaku tanpa melepaskan kerangka normatif. Pertama,Islam
sebagai dogma juga merupakan pengalaman universal dari kemanusiaan. Kedua, Islam
tidak hanya terbatas pada kehidupan setelah mati, tetapi orientasi utama adalah
dunia sekarang.
b. Aspek Sasaran Keilmuan.
Studi keilmuan memerlukan pendekatan yang kritis, analitis, metodologis,
empiris dan histories. Oleh karena itu, konteks ilmu harus mencerminkan
ketidakberpihakan pada satu agama, tetapi lebih mengarah pada kajian yang
bersifat obyektif. Dengan demikian, studi Islam sebagai aspek sasaran keilmuan
membutuhkan berbagai pendekatan.
Dalam studi Islam, kerangka pemikiran ilmiah di atas ditarik dalam
konteks keislaman. Pengkajian terhadap Islam yang bernuansa ilmiah
tidak hanya terbatas pada aspek-aspek yang normative dan dogmatis,
tetapi juga pengkajian yang menyangkut aspek sosiologis dan empiris. Pengkajian
Islam ini dapat dilakukan secara paripurna dengan pengujian secara terus
menerus atas fakta-fakta empiric dalam masyarakat yang dinilai sebagai
kebenaran nisbi dengan mempertemukan pada nilai agama yang bersumber dari wahyu
sebagai kebenaran absolute. Dengan demikian, kajian keislaman yang bernuansa
ilmiah meliputi aspek kepercayaan normative-dogmatif yang bersumber dari wahyu
dan aspek perilaku manusia yang lahir dari dorongan kepercayaan.
Pertama, untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar
mereka dapat melaksanakan dan mengamalkan secara benar, serta menjadikannya
sebagai pegangan dan pedoman hidup. Memahami dan mengkaji Islam
direfleksikan dalam konteks pemaknaan yang sebenarnya
bahwa Islam adalah agama yang mengarahkan pada pemeluknya sebagai hamba yang
berdimensi teologis, humanis, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Dengan
studi Islam, diharapkan tujuan di atas dapat di tercapai.
Kedua, untuk menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai wacana ilmiah secara
transparan yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Dalam hal ini, seluk
beluk agama dan praktik-praktik keagamaan yang berlaku bagi umat Islam
dijadikan dasar ilmu pengetahuan. Dengan kerangka ini, dimensi-dimensi Islam
tidak hanya sekedar dogmentis, teologis. Tetapi ada aspek empirik sosiologis.
Ajaran Islam yang diklain sebagai ajaran universal betul-betul mampu menjawab
tantangan zaman, tidak sebagaimana diasumsikan sebagian orientalis yang
berasumsi bahwa Islam adalah ajaran yang menghendaki ketidak majuan dan tidak
mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Dalam memahami agama, Abuddin
Nata menjelaskan bahwa pendekatan teologis normatif lebih menggunakan kerangka
ilmu ketuhanan yang bertolak dari keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu
keagamaan dianggap suatu yang benar dibandingkan dengan yang lainnya.
Islam adalah nama suatu agama yang berasal dari Allah, SWT. Nama Islam demikian
itu memiliki perbedaan yang luar biasa dengan nama agama lainnya.
Kata Islam tidak mempunyai hubungan dengan orang tertentu atau dari golongan
manusia atau dari suatu negri. Kata Islam adalah nama yang diberikan
oleh Tuhan sendiri.[3]
2. Asal-usul Studi Islam
Studi Islam di dunia Islam sama
dengan menyebut studi Islam di dunia muslim. Dalam sejarah muslim dicatat
sejumlah lembaga kajian Islam di sejumlah kota. Maka uraian berikut adalah
sejarah perkembangan studi Islam di dunia muslim. Akhir periode Madinah sampai
dengan 4 H, fase pertama pendidikan Islam sekolah masih di masjid-masjid dan
rumah-rumah dengan ciri hafalan namun sudah dikenalkan logika. Selama abad ke 5
H, selama periode khalifah ‘Abbasiyah sekolah-sekolah didirikan di kota-kota
dan mulai menempati gedung-gedung besar dan mulai bergeser dari matakuliah yang
bersifat spiritual ke matakuliah yang bersifat intelektual, ilmu alam dan ilmu
sosial.[4]
Sebagaimana agama itu sendiri, sejarah agama itu sulit dipahami. Pada abad yang lalu studi tentang agama-agama manusia menjadi dasar pengembangan akademik. Di eropa, inggris dan Amerika Utara sekolah menyediakan jurusan studi agama meningkat dengan berbagai tujuan danmetode. Sebagaimana disampaikan oleh Richard C. Martin pada uraian sebelumnya bahwa dalam hal ini Charles J.Adam juga menyatakan bahwa pada masa dahulu studi terhadap agama mengalami masa suram.
Sebagaimana agama itu sendiri, sejarah agama itu sulit dipahami. Pada abad yang lalu studi tentang agama-agama manusia menjadi dasar pengembangan akademik. Di eropa, inggris dan Amerika Utara sekolah menyediakan jurusan studi agama meningkat dengan berbagai tujuan danmetode. Sebagaimana disampaikan oleh Richard C. Martin pada uraian sebelumnya bahwa dalam hal ini Charles J.Adam juga menyatakan bahwa pada masa dahulu studi terhadap agama mengalami masa suram.
Hal ini di buktikan dalam dua dekade terakhir, Charles J. Adam memberikan
penilaian yangsuram tentang hubungan antara sejarah agama-agama dengan studi islam[5]
Pada abad ke- 19 studi ketimuran mengalami pemisahan sebagai disiplin ilmu
tersendiri di universitas-universitas di Eropa. di Perancis dan Inggris , motivasinya
adalah politis, karena kedua negara tersebut adalah termasuk negara yang
berambisi menjajah di Timur Tengah. Pada paruh kedua dari abad ke-19 ketika
studi scintific agama memperoleh kebebasan dari fakultas-fakultas pada pada
universitas yang ada di Eropa dan Inggris, Pada saat itu adalah masa dimana
studi sejarah, antropologi,ketimuran, dan Injil menjadi disiplin ilmu yang
mandiri.[6]
Adapun dari kalangan peradaban Islam yang berpengaruh dalam pembentukan studi
islam yakni, Pada masa kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah. Dalam hal ini, sejarawan
memandang mengenai pemerintahan Daulah
Bani Abbasiyah. Mereka mangatakan bahwa di zaman tersebut disebut sebagai zaman
keemasan dalam islam. Pada masa itu perkembangan pemikiran ke-Islaman mencapai
puncaknya, para filsof Islam, ahli-ahli ilmu kalam, dan para imam mazhab lahir
pada masa Daulat Bani Abbasiyah.
Selanjutnya, Dalam metode pengembangan sejarahnya agama-agama akan
memunculkan keyakinan yang mendalam bagi seseorang. Oleh karena itu, Charles
menggunakan pendekatan kesejarahan agama islam seperti yang dilakukan Wach,
untuk memahami dan menganalisis tradisi islam dan memahami secara jelas tentang
hubungan struktural dengan tradisi-tradisi yang lain. Keinginan tersebut tidak
di dasari oleh sebagian para sejarawan agama terutama hubungan antara
aktivitas-aktivitas keislaman dengan para sejarawan agama. Adams menduga bahwa
kegagalan intelektual menjadi akar ketidakmampuan membuat sesuatu.
Apapun alasannya, sejarah agama sekarang ini terlalu mengabaikan islam,
kalaupun ada yang tidak mengabaikan Islam,itu pun sedikit. Oleh karena itu,
dalam mempelajari islam idak mungkin bisa melepaskan diri dari mempelajari
sejarahnya, sehingga ada istilah Islam Teori yaitu, Islam sebagaimana di sampaikan
oleh Allah dan rasul-Nya dan sejarah yaitu sejarah umat beragama dari suatu
masa tertentu pada masa lainnya.
3.
Pertumbuhan Studi Islam
a. Pertumbuhan Studi Islam di Dunia
Muslim
Sebelum menjelaskan sejarah
perkembangan studi islam di dunia muslim, dirasa penting untuk lebih dahulu
menuliskan 2 hal. Pertama, menulis secara singkat sejarah prestasi umat manusia
dalam bidang ilmu pengetahuan. Kedua menulis sejumlah lembaga intelektual yang
berperan dalam kemajuan lembaga pendidikan Islam. Pada tahun 750-1258, yang di
sebut zaman kejayaan muslim. Selama 350 tahun pertama (750-1100M) kejayaan
tersebut di dominasi dan secara mutlak di kuasai sarjana-sarjana Muslim
contohnya; Jabir, Khawarizmi, al-Razi, maz’udi, Ibnu sina, Umar al-Khayyam dan
Ibnu Haitam.
Berdirinya
sistem madrasah justru menjadi titik balik kejayaan. Sebab madrasah dibiayai
dan diprakarsai negara. Kemudian madrasah menjadi alat penguasa untuk mempertahankan
doktrin-doktrin terutama oleh kerajaan
Fatimah di Kairo. Pengaruh al-Ghazali (1085-1111 M) disebut sebagai awal
terjadi pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi
pusat kajian Islam di zamannya, yakni Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus, dan
Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia Muslim yakni: Nizhamiyah
di Baghdad, al-Azhar di Kairo Mesir, Cordova, dan Kairwan Amir Nizam al-Muluk
di Maroko. Salah satu sejarah singkat masing-masing pusat studi islam di
gambarkan sebagai berikut.
1) Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan Tinggi Nizhamiyah di Baghdad berdiri pada tahun 455 H / 1063
M. perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya
raya di Baghdad, yakni Bait-al-Hikmat, yang dibangun oleh al-Makmun (813-833
M). salah seorang ulama besar yang pernah mengajar disana, adalah ahli pikir
Islam terbesar Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) yang kemudian terkenal dengan
sebutan imam Ghazali. Perguruan tinggi tertua di Baghdad ini hanya
sempat hidup selama hampir dua abad. Yang pada akhirnya hancur akibat penyerbuan
bangsa Mongol Pada tahun 1258 M[7]
2) Al-azhar di Kairo Mesir
Panglima
Besar Juhari al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi
al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa
pemerintahan al-Hakim Biamrillah khalifah keenam dari Daulat Fathimiah, ia pun
membangun pepustakaan terbesar di al-Qahira untuk mendampingi Perguruan tinggi
al-Azhar, yang diberri nama Bait-al-hikmat (Balai Ilmu Pengetahuan), seperti
nama perpustakaan terbesar di Baghdad. Pada tahun 567 H/1171 M daulat Fathimiah
ditumbangkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi yang mendirikan Daulat
al-Ayyubiah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasiyah
di Baghdad. Kurikulum pada Pergutuan Tinggi al-Azhar lantas mengalami
perombakan[8].
Pendidikan Nilai Islami dan Pendidikan Berkarakter[9]
Dalam perspektif Pendidikan Islam, guna dapat
menjalankan fungsinya sebagai khalifah sekaligus sebagai ‘abd, manusia memiliki
kewajiban menuntut ilmu secara terpadu. Ilmu atau pengetahuan terpadu
didefinisikan oleh R.H.A Sahirul Alim dalam Daulay (2004) meliputi ilmu-ilmu
dari alam semesta dan alam sekitarnya serta melalui wahyu yang diajarkan oleh
para nabi dan rasul; “Ilmu yang demikian itu merupakan ilmu yang dijiwai oleh
tauhid karena dibimbing oleh kebenaran mutlak” Daulay menambahkan bahwa
kurikulum pendidikan Islam berorientasi kepada tiga hal, yaitu hubungan dengan
Allah, hubungan dengan manusia, dan hubungan dengan alam. Kemudian Daulay
menambahkan bahwa Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengaitkan
nilai-nilai islam dalam pengintegrasian ilmu agama dan ilmu umum upaya-upaya
tersebut diantaranya adalah :
a.
Merancang keterkaitan ilmu-ilmu agama dan umum. Materi
pelajaran agama tidak hanya berdiri sendiri, dari materi ilmu-ilmu agama dapat
dikaitkan dengan ilmu sosial, humaniora, dan ilmu-ilmu kealaman
b. Merancang nilai-nilai Islam pada setiap mata
pelajaran. Adanya keterkaitan ilmu ilmu tersebut dengan nilai-nilai islam. Di
dalam mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dengan ajaran Islam dapat
dilakukan dengan cara:
1.
Dengan mengimplikasikan nilai-nilai Islam kedalam setiap
mata pelajaran
2. Merancang konsep-konsep Islam untuk disiplin
ilmu (IDI) misalnya, Islam untuk pengetahuan sosial, Islam untuk kesenian, dsb
3. Penggalian konsep-konsep Islam dalam berbagai
bidang ilmu, seperti konsep Islam dalam bidang ilmu social, humaniora, dan ilmu
kealaman
c.
Sejarah
Perkembangan Studi Islam di Barat
Kontak Islam dengan Barat (Eropa) dapat dikelompokkan
menjadi dua fase, yakni: (1) di masa kejayaan Islam (abad ke 8 M) kalau melihat
Spanyol adalah abad 13 M, dan (2) di masa renaissance /
runtuhnya muslim, dimana Barat yang berjaya (selama abad ke 16 M) sampai
sekarang.
1)
Fase Kejayaan Islam
Seperti terungkap ketika membahas
sejarah perkembangan studi Islam di dunia Muslim, bahwa kontak pertama antara
dunia Barat dengan dunia muslim adalah lewat kontak perguruan tinggi. Bahwa
sejumlah ilmuan dan tokoh-tokoh barat datang di perguruan tinggi muslim untuk memperdalam
ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dunia Islam belahan timur, perguruan tinggi
tersebut berkedudukan di Baghdad dan di Kairo.
Bentuk lain dari kontak dunia muslim dengan dunia barat pada fase pertama adalah penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin sejak abad ke-13 M hingga bangkitnya zaman kebangunan (renaissance) di Eropa pada abad ke-14. Berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah tersebut di Barat. Apalagi sesudah aliran empirisme yang dikumandangkan oleh Francis Bacon menguasai alam pikiran di Barat dan berkembangnya observasi dan eksperimen. Setelah ilmu-ilmu yang dahulunya dikembangkan muslim masuk ke Eropa dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat, dirasakan banyak tidak sejalan dengan Islam. Misalkan dirasakan dirasuki oleh paham sekuler dan sejenisnya.
Bentuk lain dari kontak dunia muslim dengan dunia barat pada fase pertama adalah penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin sejak abad ke-13 M hingga bangkitnya zaman kebangunan (renaissance) di Eropa pada abad ke-14. Berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah tersebut di Barat. Apalagi sesudah aliran empirisme yang dikumandangkan oleh Francis Bacon menguasai alam pikiran di Barat dan berkembangnya observasi dan eksperimen. Setelah ilmu-ilmu yang dahulunya dikembangkan muslim masuk ke Eropa dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat, dirasakan banyak tidak sejalan dengan Islam. Misalkan dirasakan dirasuki oleh paham sekuler dan sejenisnya.
2) Fase Renaissance / Runtuhnya Muslim
Selama abad renaissance Eropa
menguasai dunia ntuk mencari mata dagangan, komersial, dan penyebaran agama. Kedatangan
muslim fase kedua ke dunia barat, khususnya eropa barat dilator belakangi oleh
dua alasan pokok, yakni: alasan politik dan alasan ekonomi. Alasan politik adalah
kesepakatan kedua negara, yang satu sebagai bekas penjajah, sementara yang
satunya sebagai bekas jajahan. Misalnya Perancis mempunyai kesepakatan dengan
negara bekas jajahannya, bahwa penduduk bekas jajahannya boleh masuk ke
Perancis tanpa pembatasan. Maka berdatanglah muslim dari Afrika Barat dan
Afrika Utara, khuusnya dari Algeria ke Perancis. Adapun alasan ekonomi adalah
untuk mencukupi tenaga buruh yang dibutuhkan negara-negara Eropa Barat. Untuk
menutupi kebutuhan itu Belgia, Jerman, Belanda merekrut buruh dari Turki,
Maroko, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, sementara Inggris
mendatangkan dari negara-negara bekas jajahannya. Adapun kategori Muslim yang
ada di Eropa Barat ada dua, yakni pendatang (migran) dan penduduk asli.
c.
Perkembangan Studi Islam di Indonesia
Perkembangan
Studi Islam di Indonesia dapat di gambarkan demikian. Bahwa lembaga atau sistem pendidikan islam di Indonesia
mulai dari sistem pendidikan langgar, kemudian
sistem pesantren, kemudian berlanjut dengan system pendidikan di
kerajaan-kerajaan islam,akhirnya muncul system klas. Maksud dari sistem pendidikan dengan sistem langgar adalah pendidikan yang
dijalankan di langgar,atau surau,masjid atau rumah guru. Adz-Dzakiey, memberikan gambaran tentang
makna guru dalam literatur kependidikan Islam,antara lain: Pertama Guru
bisa dimaknai sebagai ustadz. Sebutan ini biasanya ditujukan kepada
seorang profesor. Pemaknaanya adalah, bahwa seorang guru dituntut untuk
profesionalisme dalam tanggung jawab dan kewajibannya serta komitmen dalam
kapabilitasnya.Professor dimaknai, jika seseorang mempunyai dedikasi yang
tinggi dalam tugasnya, komitmen terhadap kualitas kinerjanya, serta sikap continous
improvement, yaitu selalu memperbaiki dan memperbarui kinerjanya sesuai
dengan tuntutan zaman; kedua (Muallim), bisa bermakna guru dalam dimensi
teoritis dan amaliah. Penafsiran muallim merupakan pemaknaan terhadap
seorang guru dengan segala status dan perannya, yang dituntut untuk mampu
menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan secara utuh dengan prinsip keadilan dan
kebaikan secara teoretis, ilmiah, dan amaliahnya; ketiga (Murabby) yang
mempunyai makna dasar “Rabb”, yaitu yang menciptakan manusia dan alam seisinya.
Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah
dituntut untuk kreatif, inovatif, mengatur dan memelihara alam semesta. Tugas
guru dalam konteks ini adalah menyiapkan sumber daya manusia yang kreatif,
inovatif serta inspiratif dalam rangka menjaga dan memelihara alam dan isinya
sesuai dengan yang diperintahkan Allah; Keempat (Mudarris) mempunyai
makna menghapus, menghilangkan, dan mempelajari. Guru mempunyai tugas dan
tanggung jawab dalam mencerdaskan anak didiknya, melatih keterampilan,
menghilangkan kebodohan, dan memberikan pengetahuan sesuai dengan bakat dan
minat peserta didik untuk tidak menjadi usang dimakan zaman. Guru dituntut
untuk lebih aktif dalam memperbarui ilmu pengetahunnya, agar tetap eksis
dalam memberikan pencerahan kepada peserta didiknya sesuai dengan lingkungan
dan zamannya; kelima (Muaddib) berasal dari kata adab, yang mempunyai
makna moral atau etika. Adab berarti moral jasmaniyah dan rohaniyah yang harus
dimiliki oleh seorang guru sehingga peran dan status yang dimilikinya harus
ditularkan kepada anak didik untuk dicontoh atau ditiru sebagai fungsi
membangun peradaban bagi bangsa dan negaranya serta agamanya.[10] Kurikulumnya bersifat elementer, yakni mempelajari abjad
huruf arab. Dengan sistem ini dikelola oleh alim, ulama’. Mereka
ini umumnya berfungsi sebagai guru agama atau sekaligus menjadi tukang baca
do’a.[11] pengajaran dengan sistem langgar ini dilakukan dengandua
cara, pertama dengan metode sorogan, yakni seorang murid berhadapan secara
langsung dengan guru dan bersifat perorangan. Kedua,adalah dengan cara halaqah.
Yakni guru dikelilingi oleh murid-murid.
Adapun sistem pendidikan di pesantren, dimana seorang
kyai mengajari santri dengan sarana masjid sebagai tempat pengajaran atau
pendidikan dan didukung oleh pondok sebagai tempat tinggal santri. Hanya saja
metode sorogan di pesantren biasanya si santri yang membaca kitab, sementara
itu kyai yang mendengar dan sekaligus mengoreksi jika terdapat kesalahan.
Sistem pengajaran berikutnya adalah pendidikan dikerajaan-kerajaan Islam, yang
dimulai dari kerajaan Samudra Pasai di aceh. Adapun materi yangdi ajarkan di
majlis ta’lim dan halaqah di kerajaan pasai adalah fiqh madzab Syafi’i. Pada
akhir abad ke-19 perkembangan pendidikan islam di indonesia mulai dimasuki
sekolah model belanda, sekolah eropa, sekolah Vernahuler. Vernahuler merupakan
sekolah khusus bagi warga belanda. Disamping itu ada sekolah pribumi yang
mempunyai sistem yang sama dengan sekolah-sekolah belanda tersebut, seperti
sekolah Taman Siswa.[12]
Kemudian dasawarsa ke-2 tepatnya abad ke -20 muncul
madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah model belanda oleh organisasi Islam
seperti Muhammadiyah, NU, Jama’at al-Khair, dan lain-lain[13].
Pada level perguruan tinggi dapat digambarkan bahwa berdirinya perguruan tinggi
Islam tidak dapat di lepasakan dari adanya keinginan umat islam indonesia intuk
memiliki lembaga pendidikan tinggi sejakk zaman kolonial. Pada bulan April 1945
diadakan pertemuan antara tokoh-tokoh organisasi islam, Ulama, dan cendekiawan.
Setelah persiapan cukup, pada tanggal 8 juli 1945 atau tepatnya tanggal 27
Rajab 1364 H bertepatan dengan Isra’ dan Mi’raj diadakan acara pembukaan resmi
Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. Dari sinilah sekarang kita mengenal
berbagai Universitas seperti, UII, IAIN, UIN dan STAIN.
Perdebatan Tentang Awal Masuknya Islam ke Indonesia
Islam masuk ke Indonesia menurut Hamka pada awal abad
ke-7. Artinya, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriyah, bahkan pada
masa Khulafaur Rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara
ketika sahabat Abu Bakar as| S|iddiq, Umar bin Khat}ab, Us}man bin Affan dan
Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai Amirul Mukminin.
Teori HAMKA ini yang kemudian dikenal dengan teori
Arabia.10 Teori
ini juga didukung oleh Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam.
Namun Yatim lebih melihat pada sisi politiknya, dengan artian bahwa
perkembangan masyarakat Islam di Indonesia baru terdapat ketika ”komunitas
Islam” berubah menjadi pusat kekuasaan.11
Sementara Taufik Abdullah tidak menyetujui tentang
teori yang mengatakan bahwa datangnya Islam pertama kali ke Indonesia pada abad
ke- 7 M dengan alasan belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat
yang disinggahi oleh para pedagang Muslim itu beragama Islam. Adanya koloni
itu, diduga sejauh yang paling bisa dipertanggungjawabkan, ialah para pedagang
Arab tersebut, hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran.12
Namun berdasarkan bukti catatan-catatan resmi dan
Jurnal Cina pada periode ini Dinasti Tang13 618 M secara ekplisit menegaskan bahwa Islam sudah
masuk wilayah Timur jauh, yakni Cina dan sekitarnya14 pada abad pertama Hijriah melalui lintas laut dari
bagian Barat Islam. Cina yang dimaksudkan pada abad pertama Hijriah tiada lain
adalah gugusan pulau-pulau di Timur Jauh termasuk Kepulauan Indonesia.15 Cina juga mengisyaratkan adanya pemukiman Arab di Cina
yang penduduknya diizinkan oleh Kaisar untuk sepenuhnya menikmati kebebasan
beragama.16 Pada
masa itu orang-orang Islam memilih pemimpin mereka sendiri yang dinamakan imam,17 dan sejak masa itu perdagangan Indonesia mulai lancar
dan maju.
Selain itu, laporan Cina yang menegaskan keputusan
bangsa Arab mengirim utusan kepada Kerajaan Ho Long. Kerajaan Arab mengirim
utusan ke Kerajaan Ho Long sekitar tahun 640 M, 666 M, dan 674 M.18 Sementara Kerajaan Ho Long sendiri menurut Alwi Sihab19 terletak di Jawa Timur yang bernama Kerajaan
Kalingga yang terkenal dengan kemajuan dan kesejahteraan rakyat serta
keadilan pemerintahannya. Sementara yang mengutus oleh orang-orang Cina dikenal
dengan sebutan ”Tashih” sebagai nama yang mereka kenal untuk kerajaan
Arab.20 Jadi,
pengenalan dini kaum Muslimin (Arab) terhadap Kepulauan Indonesia setaraf
dengan data yang mereka ketahui mengenai Cina bahkan lebih luas.[14]
Jika demikian halnya, alasan apakah yang menjadi penghalang untuk
menetapkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah. Yaitu,
pada masa pedagang-pedagang Muslim memasuki Cina karena kedatangan orang-orang
Arab membawa Islam ke Cina melalui jalur laut lama.
Masuk dan Berkembangnya Islam di Belitung
Hubungan antara Kampung Negeri dengan Kesultanan
Banten terjalin begitu erat. Segala keadaan politik di Kesultanan Banten
berpengaruh besar terhadap Kampung Negeri. Pada tahun 1683 Masehi, terjadi
perebutan kekuasaan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji di Kesultanan
Banten. Sultan Haji terdesak dan meminta bantuan dari VOC dengan syarat
menyerahkan beberapa daerah penghasil lada, termasuk Lampung. Di Lampung
sendiri terdapat masyarakat yang berpihak terhadap Sultan Haji, salah satunya adalah
Raja Ngombar yang baru saja menggantikan tahta Pangeran Purba Negara di Semaka.
Adapun Pasukan Sultan Ageng Tirtayasa yang
berada di Lampung, terdiri atas pejuang-pejuang dari Merak, Jo, Pangkal, Rajabasa,
Menanga, Ratai, Pedada dan kampung-kampung di pesisir Teluk Betung termasuk
Kampung Negeri (Depdikbud Kanwil Propinsi Lampung, 1997: 68).
Masuk dan berkembangnya Islam di Teluk Betung
tidak sekadar terjadi dan melibatkan Kampung Negeri. Terdapat pula tokoh yang
menyebarkan ajaran Islam diberbagai pelosok Teluk Betung dengan media yang
berbeda-beda. Tokoh-tokoh pelopor penyebaran Islam di Teluk Betung, diantaranya
adalah Tubagus Machdum, Daeng Muhammad Soleh, Daeng Muhammad Ali, Tubagus Yahya
dan K.H Ali Thasim. Sekitar tahun 1700 Masehi. Tubagus Machdum mengembangan ajaran
Islam di Teluk Betung. Tubagus Machdum merupakan penyebar agama Islam yang
berasal dari Banten dan masih memiliki garis keturunan dari Sultan Hasanuddin.
Sebagai seorang perantau, Tubagus Machdum hidup berpindah-pindah ke berbagai
daerah.Dalam syiar keagamaan, Tubagus Machdum menekankan ajaran yang terkandung
dalam kitab suci Alquran, salah satunya yaitu amalan surat Yasin. Tubagus
Machdum meninggal dunia akibat dibunuh oleh penjahat di pesisir Teluk Betung.
Setelah wafat, jasad Tubagus Machdum dimakamkan tidak jauh dari lokasi saat
beliau terbunuh, yakni di daerah Kuala, Teluk Betung Selatan. Wafatnya Tubagus
Machdum, tidak menyurutkan pengembangan ajaran Islam di Teluk Betung.
Kedatangan mubaligh tersebut telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan
Islam di Teluk Betung. Beliau menanamkan fondasi yang kokoh terhadap penyebarkan
ajaran Islam sampai ke pelosok-pelosok melalui kegiatan dakwah dan pengajian.
Dengan demikian, semakin banyaklah penganut agama Islam. Puncak penyebaran
agama Islam di Teluk Betung terjadi pada abad XIX ditandai dengan keberhasilan
para tokoh penyebar agama Islam mendirikan Masjid pertama dan tertua di Lampung,
yakni Masjid Jami Al Anwar yang berdiri pada tahun 1839 Masehi.[15]
Telaah Pendidikan dalam Perspektif Ibnu Sina
Pada dasarnya,
semua aktivitas yang terjadi dalam proses pendidikan tidak bisa dipisahkan dari
konsep atau teori pendidikan itu sendiri. Konsep dan teori merupakan ide pokok
yang sentral apa yang sebenarnya masalah yang dihadapi; apa yang harus
diperbuat; serta bagaimana hal itu bisa terlaksana di dalam aktivitas tersebut.24
Oleh sebab itu, dalam kontek ilmu pendidikan yang dipelajari orang sekarang,
Ibnu Sina harus kita golongkan dalam kategori ahli filsafat pendidikan. Dengan
kata lain, beliau adalah salah seorang di antara ahli falsafah pendidikan yang
banyak meninggalkan pengaruh pada pemikiran pendidikan, seperti juga pengaruh
Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas dan lainnya.25 Dalam hal ini, Ibnu Sina
kiranya telah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap masalah-masalah pendidikan
dengan sejumlah teori yang telah dilontarkannya.
Bila kita
telaah statmen yang dikemukan oleh Ibnu Sina secara lebih jauh,maka kita akan
menemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan materi
pelajaran kepada subjek didik, antara lain:
1) Seorang guru dalam memberikan materi pelajaran,
hendaklah
menyesuaikan dengan tingkatan umur subjek didik.
2) Seorang guru dalam
memberikan materi pelajaran, hendaklah menyesuaikan dengan bakat dan minat subjek didik,
sehingga subjek didik tidak meresa bosan dalam menekuni mata pelajaran
tersebut, karena sesuai dengan bakat dan minatnya.
3) Seorang guru dalam
memberikan materi pelajaran, hendaklah menyesuaikan dengan kebutuhan subjek didik, terutama dalam
mendapatkan peluang kerja. Dengan kata lain, kurikulum yang ditawarkan hendaknya
bersifat pragmatis.[16]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari materi di atas kita bisa mengambil
kesimpulan bahwasannya pendidikan itu sangatlah penting bagisiapapun karena
karena penddikan pela yangmengantarkitapada masa depan yanglebih baik, dan juga
di atas dipaparkan beberapa ciri-ciri pembelajaran dengan prosedur yang benar,
agar kitatidak salah langkah dalam proses belajar. Di atas juga di jelaskan
bahwa betapa pentngya kita menelaah sejarah orang-orang dahulu yang senantiasa
ikut andil dalam perkembangan pendidikan dan menemukan teori-teori baru yang
memberikan pilihan buatkita, untukmemilih pendidikan sesuai keinginan kita,
khususnya pendidikan islam yang dulunya
sempat redup cahayanya dikarenakan banyaknya orang yang mengabaikan persoalan
agama, tetapi sekarang Islam sudah berkembang pesat diberbagai penjuru dunia.
kita tidak akan kesulitan lagi menemukan literatur-literatur untuk bahan
pembelajaran yang dalam konteks disiplin keilmuan islam itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Khoiruddin. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: ACAdeMIA +
TAZAFFA , 2012.
Mudzhar, Atho. Pendekatan Studi Islam. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR,
2004.
Ghazali, Adeng Muchtar. Ilmu Studi Agama. Bandung: CV PUSTAKA SETIA,
2005.
Mu’ammar, M Arfan dan Hasan, Abdul Wahid dkk. Studi Islam dalam
perspektif Insider/Outsider. Jogjakarta: IRCiSoD (Anggota IKAPI), 2012.
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam, Jakarta : PT RajaGrafindo
Persada, 2012.
Darwis, Maidar”Konsep Pendidikan Islam dalam Perspektif Ibnu Sina”, Jurnal Ilmiah
DIDAKTIKA, VOL. XIII, NO. 2, (Februari, 2013)
Febriadi,
Zafran dkk,” Tinjauan Historis Masuk dan Berkembangnya Islam di
Belitung,”jurnal pendidikan dan penelitian sejarah, Vol 1, No 4
(2013)
M. Yakub,
“Perkembangan Islam di Indonesia”, Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume
7, Nomor 1, (Juni, 2013)
Hayat,
“PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP PROPHETIC INTELLIGENCE’’, Jurnal Pendidikan Islam, Volume II,Nomor 2, (Desember 2013/1435)
Rosemary,
Rizanna dan Saiful Mahdi, “Tantangan Implementasi Sistem Pendidikan Berbasis
Nilai Islami (SPBNI),” Jurnal Pencerahan Volume 7, Nomor 1, (Maret,
2013)
[1] Taufik Abbdullah, Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana , tth), h. 97
[2] Amin Abdullah Dalam Abudin Nata, Studi Agama Normalitas atau Historitas (Yogyakarta Pustaka Pelajar: 1999), 150.
[5] Dikutip
dari Charles J. Adam, The History of Religius and the
Studi of Islam, dalam the History of Religions:Essays
on the Problem of Understanding, ed. Joseph M. Kitagawa with MirecaEliade
and Charles H. Long (Chicago and London University of Chicago Press, 1967),
177-193.
[6] M.
Arfan Mu’ammar,Abdul Wahid Hasan,dkk, Studi Islam dalam perspektif
insiders/outsiders (Jogjakarta: 2012), 70-71.
[7] Hasan Asari,Menyingkap, hlm. 57-58
[9] Rizanna Rosemary, Saiful Mahdi, “Tantangan Implementasi Sistem Pendidikan
Berbasis Nilai Islami (SPBNI),” Jurnal
Pencerahan Volume 7, Nomor 1, (Maret,
2013), 19.
[10] Hayat, “PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP
PROPHETIC INTELLIGENCE’’, Jurnal Pendidikan Islam,
Volume II,Nomor 2, (Desember
2013/1435), 386.
[11] Hasbullah,Sejarah
Pendidikan Islam di Indonesia, Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1995),
21-22.
[14] M. Yakub, “Perkembangan Islam di Indonesia”, Jurnal
Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 7, Nomor 1, (Juni, 2013), 138-139.
[15] Zafran Febriadi, Maskun
dan Wakidi,” Tinjauan Historis Masuk dan Berkembangnya Islam di Belitung,”jurnal
pendidikan dan penelitian sejarah, Vol 1, No 4
(2013), 6.
[16] Maidar Darwis,”Konsep
Pendidikan Islam dalam Perspektif Ibnu Sina”, Jurnal Ilmiah
DIDAKTIKA, VOL. XIII, NO. 2, (Februari, 2013), 247.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar