Rabu, 02 November 2016

Metodoogi studi islam

REVISI MAKALAH PENGANTAR STUDI ISLAM
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu
DR. Mohammad Arif, MA.









PROGRAM STUDI ILMU ALQUR’AN DAN TAFSIR
JURUSAN USHULUDDIN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Kediri
2015






KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “Pengantar Studi Islam”.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam. Penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr Mohammad Arif selaku dosen pembimbing mata kuliah ini,yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tanggungjawabnya
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dan belum bisa benar-benar dikatakan sempurna. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat  di perlukan. demi sempurnanya makalah ini, Penulis berharap semoga makalah ini dapat menjadi pedoman dan bahan pembelajaran untuk para mahasiswa.

                                                                                        Kediri, 29 November 2015              


                                                                                        Penulis  









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang…………………………………………………...……… 5
B.  Rumusan Masalah…………………………………………………….…. 6
BAB 2 PEMBAHASAN 
1.      Aspek Sasaran Studi Islam……………………………………………... 7
2.      Asal-usul Studi Islam................................................................................ 10
3.      Pertumbuhan Studi Islam……………………………............................... 12

BAB 3 PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………..... 23
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….... 24













BAB 1
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pemikiran tentang Islam senantiasa berkembang sesuai perkembangan umat Islam itu sendiri. Umat Islam berkembang, karena situasi dan kondisi yang mengelilinginya berkembang pula. Hal itu juga mempengaruhi tingkat kreatifitas umat islam dalam menentukan hal-hal baru, tentunya yang sesuai dengan ajaran dan syariat islam. Dalam praktek kehidupan terbukti masih banyak hal yang harus di perbaiki mengenai perkembangan studi islam.  meskipun, islam dari tahun ke tahun mengalami kemajuan. 

Adanya perbandingan dari kemunculan peradaban islam dahulu dengan sekarang sangat berguna untuk menentukan siapa umat islam yang terbaik dari suatu era peradaban yang berlaku . perkembangan islam di zaman modern ini juga perlu adanya koreksi yang kritis. Karena banyak khalayak yang faham tentang hakikat islam tetapi tidak melaksanakan syariat islam dengan benar.

            Peran seorang hamba dalam hal ini di perlukan untuk memperbaiki suatu sikap kepribadian individualisme antara manusia satu dengan manusia yang lain, salah satu upayanya yakni saling mengingatkan. Kita sebagai umat islam harus bangga karena islam adalah agama yang menjamin kita masuk surga. Tentu tidaklah  mudah untuk mencapai kesanana. Perlu adanya kerja keras dalam berbuat kebajikan dan takwa kepada Allah Swt. Dalam rangka menuju kenikmatan yang sempurna kita perlu ilmu. Karena, ilmu itu bisa memudahkan kita untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. untuk itu, Perlunya mengetahui tentang asal-usul dan aspek sasaran agama islam dan proses perkembangannya


supaya kita bisa faham dan bisa memperbarui apa yang ada dalam diri kita menjadi orang yang lebih bermanfaat dan berlimu.

Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk membahas dan mengkaji mengenai “Pengantar Studi Islam” Penulisan makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca dalam memahami ajaran Islam dan mengamalkannya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penjelasan mengenai apek sasaran studi Islam  ?

2. Bagaimana penjelasan mengenai asal-usul studi Islam ?

3. Bagaimana penjelasan mengenai pertumbuhan studi Islam ?

C. Maksud dan Tujuan
    1. Untuk mengetahui penjelasan mengenai apek sasaran studi islam  ?

    2. Untuk mengetahui penjelasan mengenai asal-usul studi islam ?

    3. Untuk mengetahui penjelasan mengenai pertumbuhan studi islam ?








BAB II
PEMBAHASAN

1. Aspek Sasaran Studi Islam
Antara agama dan ilmu pengetahuan masih dirasakan adanya hubungan yang belum serasi. Jaringan komunikasi ilmiah dianggap belum menjangkau agama. Dalam bidang agama terdapat sikap dogmatis, sedang dalam bidang ilmiah terdapat sikap sebaliknya, yakni sikap rasional dan terbuka. Antara agama dan ilmu pengetahuan memang terdapat unsur-unsur yang saling bertentangan. Dari unsur perbedaan itu sulit untuk dipertemukan.

Senada dengan hal di atas Imam Suprayogo mengemukakan, ” bahwa objek sasaran penelitian agama adalah ajaran dan keberagaman. Ajaran adalah teks (tulisan atau lisan), yang menggambarkan doktrin teologis, simbol, norma, dan etika yang harus dipahami, diyakini, disosialisasikan, diamalkan, dilembagakan dalam kehidupan. Ajaran ini bisa berupa teks AlQur’an, Hadits, pemikiran para ulama. Sedangkan keberagamaan adalah fenomena sosial yang diakibatkan oleh agama. Fenomena ini bisa berupa struktur sosial, pranata sosial, dan prilaku sosial.[1]” Studi Islam sebagai kajian tidak lepas dari keduanya. Antara apek sasaran keagamaan dan keilmuan sama-sama dibutuhkan dalam diskursus ini. Oleh karena itu, aspek sasaran Studi Islam meliputi dua hal tersebut, yaitu aspek sasaran keagamaan dan aspek sasaran keilmuan berikut:
                       





a.      Aspek sasaran keagamaan

IAIN maupun perguruan tinggi agama sebagai lembaga keagamaan, menuntut para pengelola dan civitas akademiknya untuk lebih menonjolkan sikap pemihakan, idealitas, bahkan seringkali diwarnai pembelaan yang bercorak apologis.Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi dalam menyiapkan generasi penerus. Dalam menannamkan dan membina sikap toleransi. Dari aspek sasaran ini, wacana keagamaan dapat ditransformasikan secara baik dan menjadikan landasan kehidupan dalam berperilaku tanpa melepaskan kerangka normatif. Pertama,Islam sebagai dogma juga merupakan pengalaman universal dari kemanusiaan. Kedua, Islam tidak hanya terbatas pada kehidupan setelah mati, tetapi orientasi utama adalah dunia sekarang. 
                                                  
b.   Aspek Sasaran Keilmuan. 

Studi keilmuan memerlukan pendekatan yang kritis, analitis, metodologis, empiris dan histories. Oleh karena itu, konteks ilmu harus mencerminkan ketidakberpihakan pada satu agama, tetapi lebih mengarah pada kajian yang bersifat obyektif. Dengan demikian, studi Islam sebagai aspek sasaran keilmuan membutuhkan berbagai pendekatan.

Dalam studi Islam, kerangka pemikiran ilmiah di atas ditarik dalam konteks  keislaman. Pengkajian terhadap Islam yang bernuansa ilmiah tidak hanya terbatas  pada aspek-aspek yang normative dan dogmatis, tetapi juga pengkajian yang menyangkut aspek sosiologis dan empiris. Pengkajian Islam ini dapat dilakukan secara paripurna dengan pengujian secara terus menerus atas fakta-fakta empiric dalam masyarakat yang dinilai sebagai kebenaran nisbi dengan mempertemukan pada nilai agama yang bersumber dari wahyu sebagai kebenaran absolute. Dengan demikian, kajian keislaman yang bernuansa ilmiah meliputi aspek kepercayaan normative-dogmatif yang bersumber dari wahyu dan aspek perilaku manusia yang lahir dari dorongan kepercayaan.
  Dikalangan para ahli masih terdapat perdebatan disekitar permasalahan apakah studi Islam (agama) dapat dimasukkan ke dalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat dan karakteristiknya  antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda. Pada dataran normativitas studi Islam agaknya masih banyak terbebani oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis dan apologis, sehingga kadar muatan analisis, kritis , metodologis, historis , empiris terutama dalam menelaah teks-teks  atau naskah-naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan, kecuali dalam lingkungan para peneliti tertentu yang masih sangat terbatas.[2] Bagi umat Islam, mempelajari Islam mungkin untuk memantapkan keimanan dan mengamalkan ajaran Islam, sedangkan bagi non muslim hanya sekedar diskursus ilmiah, bahkan mungkin mencari kelemahan umat Islam dengan demikian tujuan sasaran studi Islam adalah sebagai berikut:

Pertama, untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkan secara benar, serta menjadikannya sebagai pegangan dan pedoman hidup. Memahami dan mengkaji Islam direfleksikan  dalam   konteks  pemaknaan   yang  sebenarnya bahwa Islam adalah agama yang mengarahkan pada pemeluknya sebagai hamba yang berdimensi teologis, humanis, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Dengan studi Islam, diharapkan tujuan di atas dapat di tercapai.

Kedua, untuk menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai wacana ilmiah secara transparan yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Dalam hal ini, seluk beluk agama dan praktik-praktik keagamaan yang berlaku bagi umat Islam dijadikan dasar ilmu pengetahuan. Dengan kerangka ini, dimensi-dimensi Islam tidak hanya sekedar dogmentis, teologis. Tetapi ada aspek empirik sosiologis. Ajaran Islam yang diklain sebagai ajaran universal betul-betul mampu menjawab tantangan zaman, tidak sebagaimana diasumsikan sebagian orientalis yang berasumsi bahwa Islam adalah ajaran yang menghendaki ketidak majuan dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Dalam memahami agama, Abuddin Nata menjelaskan bahwa pendekatan teologis normatif lebih menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap suatu yang benar dibandingkan  dengan yang lainnya. Islam adalah nama suatu agama yang berasal dari Allah, SWT. Nama Islam demikian itu memiliki perbedaan yang luar biasa  dengan nama agama lainnya. Kata Islam tidak mempunyai hubungan dengan orang tertentu atau dari golongan manusia  atau dari suatu negri. Kata Islam adalah nama yang diberikan oleh Tuhan sendiri.[3]

2.  Asal-usul Studi Islam
Studi Islam di dunia Islam sama dengan menyebut studi Islam di dunia muslim. Dalam sejarah muslim dicatat sejumlah lembaga kajian Islam di sejumlah kota. Maka uraian berikut adalah sejarah perkembangan studi Islam di dunia muslim. Akhir periode Madinah sampai dengan 4 H, fase pertama pendidikan Islam sekolah masih di masjid-masjid dan rumah-rumah dengan ciri hafalan namun sudah dikenalkan logika. Selama abad ke 5 H, selama periode khalifah ‘Abbasiyah sekolah-sekolah didirikan di kota-kota dan mulai menempati gedung-gedung besar dan mulai bergeser dari matakuliah yang bersifat spiritual ke matakuliah yang bersifat intelektual, ilmu alam dan ilmu sosial.[4]

            Sebagaimana agama itu sendiri, sejarah agama itu sulit dipahami. Pada abad yang lalu studi tentang agama-agama manusia menjadi dasar pengembangan akademik. Di eropa, inggris dan Amerika Utara sekolah menyediakan jurusan studi agama meningkat dengan berbagai tujuan danmetode. Sebagaimana disampaikan oleh Richard C. Martin pada uraian sebelumnya bahwa dalam hal ini Charles J.Adam juga menyatakan bahwa pada masa dahulu studi terhadap agama mengalami masa suram.
Hal ini di buktikan dalam dua dekade terakhir, Charles J. Adam memberikan penilaian yangsuram tentang hubungan antara sejarah agama-agama dengan studi islam[5]

Pada abad ke- 19 studi ketimuran mengalami pemisahan sebagai disiplin ilmu tersendiri di universitas-universitas di Eropa. di Perancis dan Inggris , motivasinya adalah politis, karena kedua negara tersebut adalah termasuk negara yang berambisi menjajah di Timur Tengah. Pada paruh kedua dari abad ke-19 ketika studi scintific agama memperoleh kebebasan dari fakultas-fakultas pada pada universitas yang ada di Eropa dan Inggris, Pada saat itu adalah masa dimana studi sejarah, antropologi,ketimuran, dan Injil menjadi disiplin ilmu yang mandiri.[6] Adapun dari kalangan peradaban Islam yang berpengaruh dalam pembentukan studi islam yakni, Pada masa kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah. Dalam hal ini, sejarawan memandang mengenai  pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah. Mereka mangatakan bahwa di zaman tersebut disebut sebagai zaman keemasan dalam islam. Pada masa itu perkembangan pemikiran ke-Islaman mencapai puncaknya, para filsof Islam, ahli-ahli ilmu kalam, dan para imam mazhab lahir pada masa Daulat Bani Abbasiyah.

Selanjutnya, Dalam metode pengembangan sejarahnya agama-agama akan memunculkan keyakinan yang mendalam bagi seseorang. Oleh karena itu, Charles menggunakan pendekatan kesejarahan agama islam seperti yang dilakukan Wach, untuk memahami dan menganalisis tradisi islam dan memahami secara jelas tentang hubungan struktural dengan tradisi-tradisi yang lain. Keinginan tersebut tidak di dasari oleh sebagian para sejarawan agama terutama hubungan antara aktivitas-aktivitas keislaman dengan para sejarawan agama. Adams menduga bahwa kegagalan intelektual menjadi akar ketidakmampuan membuat sesuatu.

Apapun alasannya, sejarah agama sekarang ini terlalu mengabaikan islam, kalaupun ada yang tidak mengabaikan Islam,itu pun sedikit. Oleh karena itu, dalam mempelajari islam idak mungkin bisa melepaskan diri dari mempelajari sejarahnya, sehingga ada istilah Islam Teori yaitu, Islam sebagaimana di sampaikan oleh Allah dan rasul-Nya dan sejarah yaitu sejarah umat beragama dari suatu masa tertentu pada masa lainnya.

3.      Pertumbuhan Studi Islam
a.  Pertumbuhan Studi Islam di Dunia Muslim
     Sebelum menjelaskan sejarah perkembangan studi islam di dunia muslim, dirasa penting untuk lebih dahulu menuliskan 2 hal. Pertama, menulis secara singkat sejarah prestasi umat manusia dalam bidang ilmu pengetahuan. Kedua menulis sejumlah lembaga intelektual yang berperan dalam kemajuan lembaga pendidikan Islam. Pada tahun 750-1258, yang di sebut zaman kejayaan muslim. Selama 350 tahun pertama (750-1100M) kejayaan tersebut di dominasi dan secara mutlak di kuasai sarjana-sarjana Muslim contohnya; Jabir, Khawarizmi, al-Razi, maz’udi, Ibnu sina, Umar al-Khayyam dan Ibnu Haitam.
 
   Berdirinya sistem madrasah justru menjadi titik balik kejayaan. Sebab madrasah dibiayai dan diprakarsai negara. Kemudian madrasah menjadi alat penguasa untuk mempertahankan doktrin-doktrin terutama   oleh kerajaan Fatimah di Kairo. Pengaruh al-Ghazali (1085-1111 M) disebut sebagai awal terjadi pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi pusat kajian Islam di zamannya, yakni Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus, dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia Muslim yakni: Nizhamiyah di Baghdad, al-Azhar di Kairo Mesir, Cordova, dan Kairwan Amir Nizam al-Muluk di Maroko. Salah satu sejarah singkat masing-masing pusat studi islam di gambarkan sebagai berikut.

     1)  Nizhamiyah di Baghdad
   Perguruan Tinggi Nizhamiyah di Baghdad berdiri pada tahun 455 H / 1063 M. perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di Baghdad, yakni Bait-al-Hikmat, yang dibangun oleh al-Makmun (813-833 M). salah seorang ulama besar yang pernah mengajar disana, adalah ahli pikir Islam terbesar Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) yang kemudian terkenal dengan sebutan imam Ghazali. Perguruan tinggi tertua di Baghdad  ini  hanya sempat hidup selama hampir dua abad. Yang pada akhirnya hancur akibat penyerbuan bangsa Mongol Pada tahun 1258 M[7]

2) Al-azhar di Kairo Mesir
             Panglima Besar Juhari al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan al-Hakim Biamrillah khalifah keenam dari Daulat Fathimiah, ia pun membangun pepustakaan terbesar di al-Qahira untuk mendampingi Perguruan tinggi al-Azhar, yang diberri nama Bait-al-hikmat (Balai Ilmu Pengetahuan), seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad. Pada tahun 567 H/1171 M daulat Fathimiah ditumbangkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi yang mendirikan Daulat al-Ayyubiah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasiyah di Baghdad. Kurikulum pada Pergutuan Tinggi al-Azhar lantas mengalami perombakan[8].

Pendidikan Nilai Islami dan Pendidikan Berkarakter[9]
Dalam perspektif Pendidikan Islam, guna dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah sekaligus sebagai ‘abd, manusia memiliki kewajiban menuntut ilmu secara terpadu. Ilmu atau pengetahuan terpadu didefinisikan oleh R.H.A Sahirul Alim dalam Daulay (2004) meliputi ilmu-ilmu dari alam semesta dan alam sekitarnya serta melalui wahyu yang diajarkan oleh para nabi dan rasul; “Ilmu yang demikian itu merupakan ilmu yang dijiwai oleh tauhid karena dibimbing oleh kebenaran mutlak” Daulay menambahkan bahwa kurikulum pendidikan Islam berorientasi kepada tiga hal, yaitu hubungan dengan Allah, hubungan dengan manusia, dan hubungan dengan alam. Kemudian Daulay menambahkan bahwa Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengaitkan nilai-nilai islam dalam pengintegrasian ilmu agama dan ilmu umum upaya-upaya tersebut diantaranya adalah :
a.       Merancang keterkaitan ilmu-ilmu agama dan umum. Materi pelajaran agama tidak hanya berdiri sendiri, dari materi ilmu-ilmu agama dapat dikaitkan dengan ilmu sosial, humaniora, dan ilmu-ilmu kealaman
b.      Merancang nilai-nilai Islam pada setiap mata pelajaran. Adanya keterkaitan ilmu ilmu tersebut dengan nilai-nilai islam. Di dalam mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dengan ajaran Islam dapat dilakukan dengan cara:
1.      Dengan mengimplikasikan nilai-nilai Islam kedalam setiap mata pelajaran
2.      Merancang konsep-konsep Islam untuk disiplin ilmu (IDI) misalnya, Islam untuk pengetahuan sosial, Islam untuk kesenian, dsb
3.      Penggalian konsep-konsep Islam dalam berbagai bidang ilmu, seperti konsep Islam dalam bidang ilmu social, humaniora, dan ilmu kealaman

c.     Sejarah Perkembangan Studi Islam di Barat
       Kontak Islam dengan Barat (Eropa) dapat dikelompokkan menjadi dua fase, yakni: (1) di masa kejayaan Islam (abad ke 8 M) kalau melihat Spanyol adalah abad 13 M, dan (2) di masa renaissance / runtuhnya muslim, dimana Barat yang berjaya (selama abad ke 16 M) sampai sekarang.
1)  Fase  Kejayaan Islam
           
Seperti terungkap ketika membahas sejarah perkembangan studi Islam di dunia Muslim, bahwa kontak pertama antara dunia Barat dengan dunia muslim adalah lewat kontak perguruan tinggi. Bahwa sejumlah ilmuan dan tokoh-tokoh barat datang di perguruan tinggi muslim untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dunia Islam belahan timur, perguruan tinggi tersebut berkedudukan di Baghdad dan di Kairo.
Bentuk lain dari kontak dunia muslim dengan dunia barat pada fase pertama adalah penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin sejak abad ke-13 M hingga bangkitnya zaman kebangunan (renaissance) di Eropa pada abad ke-14. Berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah tersebut di Barat. Apalagi sesudah aliran empirisme yang dikumandangkan oleh Francis Bacon menguasai alam pikiran di Barat dan berkembangnya observasi dan eksperimen. Setelah ilmu-ilmu yang dahulunya dikembangkan muslim masuk ke Eropa dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat, dirasakan banyak tidak sejalan dengan Islam. Misalkan dirasakan dirasuki oleh paham sekuler dan sejenisnya.

2)  Fase Renaissance / Runtuhnya Muslim

Selama abad renaissance Eropa menguasai dunia ntuk mencari mata dagangan, komersial, dan penyebaran agama. Kedatangan muslim fase kedua ke dunia barat, khususnya eropa barat dilator belakangi oleh dua alasan pokok, yakni: alasan politik dan  alasan ekonomi. Alasan politik adalah kesepakatan kedua negara, yang satu sebagai bekas penjajah, sementara yang satunya sebagai bekas jajahan. Misalnya Perancis mempunyai kesepakatan dengan negara bekas jajahannya, bahwa penduduk bekas jajahannya boleh masuk ke Perancis tanpa pembatasan. Maka berdatanglah muslim dari Afrika Barat dan Afrika Utara, khuusnya dari Algeria ke Perancis. Adapun alasan ekonomi adalah untuk mencukupi tenaga buruh yang dibutuhkan negara-negara Eropa Barat. Untuk menutupi kebutuhan itu Belgia, Jerman, Belanda merekrut buruh dari Turki, Maroko, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, sementara Inggris mendatangkan dari negara-negara bekas jajahannya. Adapun kategori Muslim yang ada di Eropa Barat ada dua, yakni pendatang (migran) dan penduduk asli.

c. Perkembangan Studi Islam di Indonesia
Perkembangan Studi Islam di Indonesia dapat di gambarkan demikian. Bahwa lembaga atau sistem pendidikan islam di Indonesia mulai dari sistem pendidikan langgar, kemudian sistem pesantren, kemudian berlanjut dengan system pendidikan di kerajaan-kerajaan islam,akhirnya muncul system klas. Maksud dari sistem pendidikan dengan sistem langgar adalah pendidikan yang dijalankan di langgar,atau surau,masjid atau rumah guru. Adz-Dzakiey, memberikan gambaran tentang makna guru dalam literatur kependidikan Islam,antara lain: Pertama Guru bisa dimaknai sebagai ustadz. Sebutan ini biasanya ditujukan kepada seorang profesor. Pemaknaanya adalah, bahwa seorang guru dituntut untuk profesionalisme dalam tanggung jawab dan kewajibannya serta komitmen dalam kapabilitasnya.Professor dimaknai, jika seseorang mempunyai dedikasi yang tinggi dalam tugasnya, komitmen terhadap kualitas kinerjanya, serta sikap continous improvement, yaitu selalu memperbaiki dan memperbarui kinerjanya sesuai dengan tuntutan zaman; kedua (Muallim), bisa bermakna guru dalam dimensi teoritis dan amaliah. Penafsiran muallim merupakan pemaknaan terhadap seorang guru dengan segala status dan perannya, yang dituntut untuk mampu menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan secara utuh dengan prinsip keadilan dan kebaikan secara teoretis, ilmiah, dan amaliahnya; ketiga (Murabby) yang mempunyai makna dasar “Rabb”, yaitu yang menciptakan manusia dan alam seisinya.
Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah dituntut untuk kreatif, inovatif, mengatur dan memelihara alam semesta. Tugas guru dalam konteks ini adalah menyiapkan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif serta inspiratif dalam rangka menjaga dan memelihara alam dan isinya sesuai dengan yang diperintahkan Allah; Keempat (Mudarris) mempunyai makna menghapus, menghilangkan, dan mempelajari. Guru mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam mencerdaskan anak didiknya, melatih keterampilan, menghilangkan kebodohan, dan memberikan pengetahuan sesuai dengan bakat dan minat peserta didik untuk tidak menjadi usang dimakan zaman. Guru dituntut untuk lebih aktif dalam memperbarui ilmu pengetahunnya, agar tetap eksis dalam memberikan pencerahan kepada peserta didiknya sesuai dengan lingkungan dan zamannya; kelima (Muaddib) berasal dari kata adab, yang mempunyai makna moral atau etika. Adab berarti moral jasmaniyah dan rohaniyah yang harus dimiliki oleh seorang guru sehingga peran dan status yang dimilikinya harus ditularkan kepada anak didik untuk dicontoh atau ditiru sebagai fungsi membangun peradaban bagi bangsa dan negaranya serta agamanya.[10] Kurikulumnya bersifat elementer, yakni mempelajari abjad huruf arab. Dengan sistem ini dikelola oleh alim, ulama’. Mereka ini umumnya berfungsi sebagai guru agama atau sekaligus menjadi tukang baca do’a.[11] pengajaran dengan sistem langgar ini dilakukan dengandua cara, pertama dengan metode sorogan, yakni seorang murid berhadapan secara langsung dengan guru dan bersifat perorangan. Kedua,adalah dengan cara halaqah. Yakni guru dikelilingi oleh murid-murid.

Adapun sistem pendidikan di pesantren, dimana seorang kyai mengajari santri dengan sarana masjid sebagai tempat pengajaran atau pendidikan dan didukung oleh pondok sebagai tempat tinggal santri. Hanya saja metode sorogan di pesantren biasanya si santri yang membaca kitab, sementara itu kyai yang mendengar dan sekaligus mengoreksi jika terdapat kesalahan. Sistem pengajaran berikutnya adalah pendidikan dikerajaan-kerajaan Islam, yang dimulai dari kerajaan Samudra Pasai di aceh. Adapun materi yangdi ajarkan di majlis ta’lim dan halaqah di kerajaan pasai adalah fiqh madzab Syafi’i. Pada akhir abad ke-19 perkembangan pendidikan islam di indonesia mulai dimasuki sekolah model belanda, sekolah eropa, sekolah Vernahuler. Vernahuler merupakan sekolah khusus bagi warga belanda. Disamping itu ada sekolah pribumi yang mempunyai sistem yang sama dengan sekolah-sekolah belanda tersebut, seperti sekolah Taman Siswa.[12]   

Kemudian dasawarsa ke-2 tepatnya abad ke -20 muncul madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah model belanda oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, NU, Jama’at al-Khair, dan lain-lain[13]. Pada level perguruan tinggi dapat digambarkan bahwa berdirinya perguruan tinggi Islam tidak dapat di lepasakan dari adanya keinginan umat islam indonesia intuk memiliki lembaga pendidikan tinggi sejakk zaman kolonial. Pada bulan April 1945 diadakan pertemuan antara tokoh-tokoh organisasi islam, Ulama, dan cendekiawan. Setelah persiapan cukup, pada tanggal 8 juli 1945 atau tepatnya tanggal 27 Rajab 1364 H bertepatan dengan Isra’ dan Mi’raj diadakan acara pembukaan resmi Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. Dari sinilah sekarang kita mengenal berbagai Universitas seperti, UII, IAIN, UIN dan STAIN.
     Perdebatan Tentang Awal Masuknya Islam ke Indonesia
Islam masuk ke Indonesia menurut Hamka pada awal abad ke-7. Artinya, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriyah, bahkan pada masa Khulafaur Rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar as| S|iddiq, Umar bin Khat}ab, Us}man bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai Amirul Mukminin.
Teori HAMKA ini yang kemudian dikenal dengan teori Arabia.10 Teori ini juga didukung oleh Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam. Namun Yatim lebih melihat pada sisi politiknya, dengan artian bahwa perkembangan masyarakat Islam di Indonesia baru terdapat ketika ”komunitas Islam” berubah menjadi pusat kekuasaan.11
Sementara Taufik Abdullah tidak menyetujui tentang teori yang mengatakan bahwa datangnya Islam pertama kali ke Indonesia pada abad ke- 7 M dengan alasan belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang Muslim itu beragama Islam. Adanya koloni itu, diduga sejauh yang paling bisa dipertanggungjawabkan, ialah para pedagang Arab tersebut, hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran.12
Namun berdasarkan bukti catatan-catatan resmi dan Jurnal Cina pada periode ini Dinasti Tang13 618 M secara ekplisit menegaskan bahwa Islam sudah masuk wilayah Timur jauh, yakni Cina dan sekitarnya14 pada abad pertama Hijriah melalui lintas laut dari bagian Barat Islam. Cina yang dimaksudkan pada abad pertama Hijriah tiada lain adalah gugusan pulau-pulau di Timur Jauh termasuk Kepulauan Indonesia.15 Cina juga mengisyaratkan adanya pemukiman Arab di Cina yang penduduknya diizinkan oleh Kaisar untuk sepenuhnya menikmati kebebasan beragama.16 Pada masa itu orang-orang Islam memilih pemimpin mereka sendiri yang dinamakan imam,17 dan sejak masa itu perdagangan Indonesia mulai lancar dan maju.
Selain itu, laporan Cina yang menegaskan keputusan bangsa Arab mengirim utusan kepada Kerajaan Ho Long. Kerajaan Arab mengirim utusan ke Kerajaan Ho Long sekitar tahun 640 M, 666 M, dan 674 M.18 Sementara Kerajaan Ho Long sendiri menurut Alwi Sihab19 terletak di Jawa Timur yang bernama Kerajaan Kalingga yang terkenal dengan kemajuan dan kesejahteraan rakyat serta keadilan pemerintahannya. Sementara yang mengutus oleh orang-orang Cina dikenal dengan sebutan ”Tashih” sebagai nama yang mereka kenal untuk kerajaan Arab.20 Jadi, pengenalan dini kaum Muslimin (Arab) terhadap Kepulauan Indonesia setaraf dengan data yang mereka ketahui mengenai Cina bahkan lebih luas.[14]
Jika demikian halnya, alasan apakah yang menjadi penghalang untuk menetapkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah. Yaitu, pada masa pedagang-pedagang Muslim memasuki Cina karena kedatangan orang-orang Arab membawa Islam ke Cina melalui jalur laut lama.

Masuk dan Berkembangnya Islam di Belitung
Hubungan antara Kampung Negeri dengan Kesultanan Banten terjalin begitu erat. Segala keadaan politik di Kesultanan Banten berpengaruh besar terhadap Kampung Negeri. Pada tahun 1683 Masehi, terjadi perebutan kekuasaan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji di Kesultanan Banten. Sultan Haji terdesak dan meminta bantuan dari VOC dengan syarat menyerahkan beberapa daerah penghasil lada, termasuk Lampung. Di Lampung sendiri terdapat masyarakat yang berpihak terhadap Sultan Haji, salah satunya adalah Raja Ngombar yang baru saja menggantikan tahta Pangeran Purba Negara di Semaka. Adapun Pasukan Sultan Ageng  Tirtayasa yang berada di Lampung, terdiri atas pejuang-pejuang dari Merak, Jo, Pangkal, Rajabasa, Menanga, Ratai, Pedada dan kampung-kampung di pesisir Teluk Betung termasuk Kampung Negeri (Depdikbud Kanwil Propinsi Lampung, 1997: 68).

Masuk dan berkembangnya Islam di Teluk Betung tidak sekadar terjadi dan melibatkan Kampung Negeri. Terdapat pula tokoh yang menyebarkan ajaran Islam diberbagai pelosok Teluk Betung dengan media yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh pelopor penyebaran Islam di Teluk Betung, diantaranya adalah Tubagus Machdum, Daeng Muhammad Soleh, Daeng Muhammad Ali, Tubagus Yahya dan K.H Ali Thasim. Sekitar tahun 1700 Masehi. Tubagus Machdum mengembangan ajaran Islam di Teluk Betung. Tubagus Machdum merupakan penyebar agama Islam yang berasal dari Banten dan masih memiliki garis keturunan dari Sultan Hasanuddin. Sebagai seorang perantau, Tubagus Machdum hidup berpindah-pindah ke berbagai daerah.Dalam syiar keagamaan, Tubagus Machdum menekankan ajaran yang terkandung dalam kitab suci Alquran, salah satunya yaitu amalan surat Yasin. Tubagus Machdum meninggal dunia akibat dibunuh oleh penjahat di pesisir Teluk Betung. Setelah wafat, jasad Tubagus Machdum dimakamkan tidak jauh dari lokasi saat beliau terbunuh, yakni di daerah Kuala, Teluk Betung Selatan. Wafatnya Tubagus Machdum, tidak menyurutkan pengembangan ajaran Islam di Teluk Betung. Kedatangan mubaligh tersebut telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan Islam di Teluk Betung. Beliau menanamkan fondasi yang kokoh terhadap penyebarkan ajaran Islam sampai ke pelosok-pelosok melalui kegiatan dakwah dan pengajian. Dengan demikian, semakin banyaklah penganut agama Islam. Puncak penyebaran agama Islam di Teluk Betung terjadi pada abad XIX ditandai dengan keberhasilan para tokoh penyebar agama Islam mendirikan Masjid pertama dan tertua di Lampung, yakni Masjid Jami Al Anwar yang berdiri pada tahun 1839 Masehi.[15]

Telaah Pendidikan dalam Perspektif Ibnu Sina
Pada dasarnya, semua aktivitas yang terjadi dalam proses pendidikan tidak bisa dipisahkan dari konsep atau teori pendidikan itu sendiri. Konsep dan teori merupakan ide pokok yang sentral apa yang sebenarnya masalah yang dihadapi; apa yang harus diperbuat; serta bagaimana hal itu bisa terlaksana di dalam aktivitas tersebut.24 Oleh sebab itu, dalam kontek ilmu pendidikan yang dipelajari orang sekarang, Ibnu Sina harus kita golongkan dalam kategori ahli filsafat pendidikan. Dengan kata lain, beliau adalah salah seorang di antara ahli falsafah pendidikan yang banyak meninggalkan pengaruh pada pemikiran pendidikan, seperti juga pengaruh Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas dan lainnya.25 Dalam hal ini, Ibnu Sina kiranya telah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap masalah-masalah pendidikan dengan sejumlah teori yang telah dilontarkannya.
Bila kita telaah statmen yang dikemukan oleh Ibnu Sina secara lebih jauh,maka kita akan menemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan materi pelajaran kepada subjek didik, antara lain:
1) Seorang guru dalam memberikan materi pelajaran, hendaklah
menyesuaikan dengan tingkatan umur subjek didik.
2) Seorang guru dalam memberikan materi pelajaran, hendaklah menyesuaikan      dengan bakat dan minat subjek didik, sehingga subjek didik tidak meresa bosan dalam menekuni mata pelajaran tersebut, karena sesuai dengan bakat dan minatnya.
3) Seorang guru dalam memberikan materi pelajaran, hendaklah menyesuaikan   dengan kebutuhan subjek didik, terutama dalam mendapatkan peluang kerja. Dengan kata lain, kurikulum yang ditawarkan hendaknya bersifat pragmatis.[16]












                               

                  BAB III
                           PENUTUP


A.   Kesimpulan
Dari materi di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwasannya pendidikan itu sangatlah penting bagisiapapun karena karena penddikan pela yangmengantarkitapada masa depan yanglebih baik, dan juga di atas dipaparkan beberapa ciri-ciri pembelajaran dengan prosedur yang benar, agar kitatidak salah langkah dalam proses belajar. Di atas juga di jelaskan bahwa betapa pentngya kita menelaah sejarah orang-orang dahulu yang senantiasa ikut andil dalam perkembangan pendidikan dan menemukan teori-teori baru yang memberikan pilihan buatkita, untukmemilih pendidikan sesuai keinginan kita, khususnya pendidikan  islam yang dulunya sempat redup cahayanya dikarenakan banyaknya orang yang mengabaikan persoalan agama, tetapi sekarang Islam sudah berkembang pesat diberbagai penjuru dunia. kita tidak akan kesulitan lagi menemukan literatur-literatur untuk bahan pembelajaran yang dalam konteks disiplin keilmuan islam itu sendiri.













DAFTAR PUSTAKA


Nasution, Khoiruddin. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZAFFA , 2012.
Mudzhar, Atho. Pendekatan Studi Islam. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2004.
Ghazali, Adeng Muchtar. Ilmu Studi Agama. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2005.
Mu’ammar, M Arfan dan Hasan, Abdul Wahid dkk. Studi Islam dalam perspektif Insider/Outsider. Jogjakarta: IRCiSoD (Anggota IKAPI), 2012.
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012.
Darwis, Maidar”Konsep Pendidikan Islam dalam Perspektif Ibnu Sina”, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, VOL. XIII, NO. 2, (Februari, 2013)
Febriadi, Zafran dkk,” Tinjauan Historis Masuk dan Berkembangnya Islam di Belitung,”jurnal pendidikan dan penelitian sejarah, Vol 1, No 4 (2013)
M. Yakub, “Perkembangan Islam di Indonesia”, Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 7, Nomor 1, (Juni, 2013)
Hayat, “PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP PROPHETIC INTELLIGENCE’’, Jurnal Pendidikan Islam, Volume II,Nomor 2, (Desember 2013/1435)
Rosemary, Rizanna dan Saiful Mahdi, “Tantangan Implementasi Sistem Pendidikan Berbasis Nilai Islami (SPBNI),” Jurnal Pencerahan Volume 7, Nomor 1, (Maret, 2013)




[1] Taufik Abbdullah, Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana , tth),  h. 97
[2] Amin Abdullah Dalam Abudin Nata, Studi Agama Normalitas atau Historitas (Yogyakarta Pustaka Pelajar: 1999),  150.
[3] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam  (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012),  65.
[4] Khoiruddin Nasution,M.A Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: 2012), 54.
[5]  Dikutip dari Charles J. Adam, The History of Religius and the Studi of Islam, dalam the History of Religions:Essays on the Problem of Understanding, ed. Joseph M. Kitagawa with MirecaEliade and Charles H. Long (Chicago and London University of Chicago Press, 1967), 177-193.
[6]  M. Arfan Mu’ammar,Abdul Wahid Hasan,dkk, Studi Islam dalam perspektif insiders/outsiders (Jogjakarta: 2012), 70-71.
[7] Hasan Asari,Menyingkap, hlm. 57-58
[8] Ibid., hlm                                   
[9] Rizanna Rosemary, Saiful Mahdi, “Tantangan Implementasi Sistem Pendidikan Berbasis Nilai Islami (SPBNI),” Jurnal Pencerahan Volume 7, Nomor 1, (Maret, 2013), 19.
[10] Hayat, “PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP PROPHETIC INTELLIGENCE’’, Jurnal Pendidikan Islam, Volume II,Nomor 2, (Desember 2013/1435), 386.
[11]  Hasbullah,Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan   (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1995), 21-22.
[12] Khozin,Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia, 58-59.
[13] Ibid., 59.
[14] M. Yakub, “Perkembangan Islam di Indonesia”, Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 7, Nomor 1, (Juni, 2013), 138-139.
[15] Zafran Febriadi, Maskun dan Wakidi,” Tinjauan Historis Masuk dan Berkembangnya Islam di Belitung,”jurnal pendidikan dan penelitian sejarah, Vol 1, No 4 (2013), 6.
[16] Maidar Darwis,”Konsep Pendidikan Islam dalam Perspektif Ibnu Sina”, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, VOL. XIII, NO. 2, (Februari, 2013), 247.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar